Pilih framework dari masalah funnel, bukan dari namanya.
Kumpulan 92 marketing framework untuk membaca awareness, trust, offer, conversion, dan retention dengan cara yang lebih kontekstual.

Cara pakai yang benar
Framework bukan mantra. Ia hanya alat diagnosis.
Mulai dari situasi funnel, siapa audiensnya, apa hambatannya, dan keputusan apa yang ingin didorong. Baru setelah itu pilih framework.
Mulai dari problem, bukan nama framework
AIDA, PAS, JTBD, atau Value Ladder baru berguna kalau masalahnya jelas: awareness rendah, trust lemah, offer kurang tajam, conversion bocor, atau repeat order kecil.
Satu halaman boleh pakai beberapa framework
Landing page yang matang biasanya tidak murni satu formula. Contoh: JTBD untuk insight, PAS untuk opening, FAB untuk proof, Risk Reversal untuk CTA.
Contoh harus mengikuti market
Framework yang sama akan terasa beda untuk klinik kecantikan, jasa B2B, kursus, e-commerce, dan SaaS. Karena pain, trust trigger, dan objection-nya beda.
Ukur dengan funnel metric
Framework tidak boleh dinilai dari rasa suka copy saja. Ukur CTR, scroll depth, lead quality, close rate, CAC, repeat purchase, dan revenue per customer.
Decision guide
Pilih framework dari kebocoran funnel.
Kalau awareness rendah, jangan langsung lompat ke scarcity. Kalau trust belum terbentuk, CTA keras malah terasa maksa.

Awareness
Market belum sadar masalahnya atau iklan gampang diskip.
AIDA, Pattern Interrupt, 5-Second Rule, Curiosity GapJasa audit tracking: "Iklan terlihat profit, tapi lead berkualitas tidak ikut naik?" lebih tajam daripada "Jasa tracking terbaik".Trust
Audiens tertarik, tapi belum percaya klaim, tim, atau metode Anda.
Know-Like-Trust, STAR, Social Proof Scarcity, Empathy-Authority-SolutionKonsultan B2B: tampilkan kronologi masalah, tindakan, dan hasil angka. Jangan hanya tulis "dipercaya banyak bisnis".Offer
Produk ada, tapi value terasa generik dan sulit dibandingkan.
FAB, 4Us, Golden Circle, One Big Thing, 3CsLanding page: ubah "paket lengkap" menjadi deliverable konkret, timeline, siapa yang cocok, dan batas scope yang jelas.Conversion
Traffic dan interest ada, tapi lead atau checkout masih rendah.
PAS, PASTOR, Risk Reversal, Big 3 Objections Handler, SLAPHigh-ticket service: jawab objection waktu, biaya, dan risiko sebelum CTA. Jangan tunggu prospek menanyakannya di WhatsApp.Retention
Customer beli sekali, lalu hilang. Tidak ada ladder atau next step.
Value Ladder, Reciprocity Loop, Commitment Consistency Funnel, Peak-End RuleAgency: setelah audit awal, siapkan roadmap implementasi, monitoring bulanan, dan upsell yang logis berdasarkan temuan.Contoh implementasi
Contoh yang bagus harus dekat dengan bisnisnya.
Copy untuk SaaS belum tentu cocok untuk klinik, e-commerce, atau jasa lokal. Konteks bisnis menentukan framework stack yang dipakai.

Jasa B2B / Konsultan
JTBD + STAR + Risk ReversalTerlalu generik: Kami membantu bisnis berkembang dengan strategi digital terbaik.
Lebih relevan: Untuk owner yang sudah spending iklan tapi tidak tahu channel mana yang benar-benar menghasilkan revenue, kami audit tracking, baca kualitas lead, lalu susun action plan 30 hari yang bisa dieksekusi tim.
E-commerce Fashion
AIDA + Social Proof + 4UsTerlalu generik: Baju premium berkualitas dengan harga terbaik.
Lebih relevan: Dress kerja yang tetap rapi setelah dipakai seharian, dengan size guide jelas, real photo dari pembeli, dan opsi tukar ukuran 7 hari.
Kursus / Edukasi
PAS + Value Ladder + CommitmentTerlalu generik: Belajar digital marketing dari nol sampai mahir.
Lebih relevan: Mulai dari audit campaign sendiri, lanjut belajar struktur funnel, lalu praktik membaca data iklan mingguan sampai tahu kapan harus scale, hold, atau stop.
Klinik / Beauty Service
Problem-Agitate-Solution + Proof + ScarcityTerlalu generik: Treatment terbaik untuk wajah glowing.
Lebih relevan: Untuk kulit kusam dan bekas jerawat yang tidak membaik dengan skincare biasa, konsultasi dulu, pilih treatment sesuai kondisi kulit, lalu monitor progresnya bertahap.
SaaS / Software Internal
JTBD + FAB + Before-After-BridgeTerlalu generik: Software kami membuat kerja lebih efisien.
Lebih relevan: Dari follow-up manual di spreadsheet menjadi pipeline yang otomatis mengingatkan sales, mencatat status lead, dan menunjukkan deal yang hampir lewat.
Local Service
5-Second Rule + Feel-Felt-Found + Risk ReversalTerlalu generik: Jasa kami profesional, cepat, dan terpercaya.
Lebih relevan: Teknisi datang sesuai jadwal, cek masalah di lokasi, jelaskan biaya sebelum pengerjaan, dan pekerjaan bergaransi agar pelanggan tidak merasa gambling.
Kategori
Jelajahi berdasarkan kebutuhan marketing.
Framework unggulan
Paling sering dipakai untuk memperbaiki conversion.
AIDA Framework
AIDA memetakan perjalanan calon pembeli lewat empat tahap berurutan: Attention, Interest, Desire, Action. Tujuannya membuat pesan iklan menuntun orang dari sekadar sadar sampai akhirnya bertindak, entah beli, daftar, atau hubungi.
- Conversion
- 3-6%
- Level
- Beginner
Because Justification Framework
Orang jauh lebih mudah menuruti permintaan bila diberi alasan yang diawali kata 'karena', bahkan saat alasannya tipis. Di studi asli, menambahkan 'karena saya harus fotokopi' menaikkan kepatuhan menyerobot antrean dari 60% ke 93%.
- Conversion
- 4-7%
- Level
- Beginner
Jobs To Be Done Framework
JTBD memandang pelanggan tidak membeli produk, melainkan 'menyewa' produk untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan (job) dalam hidup mereka. Fokusnya bergeser dari fitur dan demografi ke progres yang ingin dicapai pelanggan pada situasi tertentu, lengkap dengan dimensi fungsional, emosional, dan sosialnya.
- Conversion
- 7-11%
- Level
- Intermediate
PASTOR Framework
PASTOR adalah kerangka sales copy panjang yang menuntun calon pembeli lewat enam tahap berurutan: Problem, Amplify, Story, Transform, Offer, Response. Dibuat untuk penawaran high-ticket, di mana keputusan butuh dibangun secara emosional dari rasa sakit menuju solusi, bukan sekadar diskon cepat.
- Conversion
- 10-15%
- Level
- Advanced
Scarcity-Urgency Duo Framework
Scarcity + Urgency Duo memasangkan kelangkaan (jumlah terbatas: sisa stok, kuota, edisi) dengan urgensi (waktu terbatas: deadline, countdown) agar audiens bertindak sekarang, bukan nanti. Kelangkaan memberi alasan 'kenapa berharga', urgensi memberi alasan 'kenapa sekarang', dan keduanya hanya bekerja jika benar-benar nyata.
- Conversion
- 8-12%
- Level
- Intermediate
SLAP Framework
SLAP menyusun iklan atau landing page respons langsung dalam empat langkah: Stop (hentikan scroll), Look (buat mereka membaca value dan benefit), Act (satu ajakan bertindak yang jelas), lalu Purchase (hilangkan friksi dan keraguan lewat garansi atau risk reversal sampai transaksi terjadi). Paling pas untuk produk murah atau impulsif yang keputusannya cepat.
- Conversion
- 9-14%
- Level
- Advanced
Library lengkap
Semua 92 framework dalam satu hub.
Daftar ini tetap mempertahankan URL detail framework yang sudah ada, jadi SEO dan internal link tidak diputus.
Strategy & Positioning
9 itemSTP
STP memecah pasar yang luas jadi segmen-segmen yang lebih seragam (Segmentation), memilih segmen mana yang paling layak dikejar (Targeting), lalu merancang pesan dan penawaran yang membuat produk terasa paling pas untuk segmen itu (Positioning). Dasarnya sederhana: kamu tidak bisa menang dengan berusaha menyenangkan semua orang sekaligus.
- Conversion
- Strategis
- Use case
- Segmentasi & targeting pasar
4P
4P membagi keputusan pemasaran jadi empat tuas yang bisa diatur: Product (apa yang dijual), Price (harga dan syarat bayar), Place (di mana dan bagaimana dibeli), serta Promotion (cara mengomunikasikannya). Keempatnya harus saling nyambung supaya penawaran terasa masuk akal buat pelanggan.
- Conversion
- Strategis
- Use case
- Menyusun bauran pemasaran
7P
7P memperluas bauran pemasaran 4P (Product, Price, Place, Promotion) dengan tiga elemen khas jasa: People, Process, dan Physical Evidence. Untuk bisnis jasa, yang dibeli pelanggan bukan sekadar produk, tapi seluruh pengalaman layanan, sehingga tiga P tambahan itu justru sering jadi pembeda yang paling terasa.
- Conversion
- Strategis
- Use case
- Bisnis jasa
Value Proposition Canvas
Value Proposition Canvas memetakan profil pelanggan (jobs, pains, gains) di satu sisi dan tawaran Anda (produk, pereda sakit, pencipta manfaat) di sisi lain, lalu memaksa keduanya bertemu sampai terjadi 'fit'. Intinya memastikan yang Anda jual benar-benar menjawab yang pelanggan butuhkan, bukan sekadar yang Anda anggap keren.
- Conversion
- Strategis
- Use case
- Product-market fit
Blue Ocean Strategy
Blue Ocean Strategy mengajak bisnis berhenti bersaing di 'samudra merah' yang penuh kompetitor dan perang harga, lalu menciptakan 'samudra biru': ruang pasar baru tanpa pesaing lewat value innovation, yaitu menaikkan nilai bagi pelanggan sekaligus menekan biaya. Alatnya adalah kerangka Empat Aksi: Eliminate, Reduce, Raise, Create (ERRC).
- Conversion
- Strategis
- Use case
- Cari pasar tanpa kompetisi
Positioning Map
Positioning map adalah diagram dua sumbu yang menempatkan brand-brand satu kategori berdasarkan cara pelanggan memandangnya, bukan menurut klaim internal. Dari peta itu terlihat di kuadran mana pesaing menumpuk dan kuadran mana yang kosong tapi masih ada permintaannya, dan di situlah celah yang bisa direbut.
- Conversion
- Strategis
- Use case
- Lihat celah pasar
Ansoff Matrix
Ansoff Matrix memetakan pilihan pertumbuhan pada dua sumbu, yaitu produk (lama vs baru) dan pasar (lama vs baru), menghasilkan empat strategi: penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk, dan diversifikasi. Semakin jauh dari yang sudah dikuasai, semakin besar potensinya sekaligus risikonya.
- Conversion
- Strategis
- Use case
- Strategi pertumbuhan
BCG Matrix
BCG Matrix mengelompokkan produk ke dalam empat kuadran berdasarkan pertumbuhan pasar (tinggi/rendah) dan pangsa pasar relatif (besar/kecil): Star, Cash Cow, Question Mark, dan Dog. Intinya, pelihara yang menang, perah yang matang, pertaruhkan yang menjanjikan, dan lepas yang sudah habis.
- Conversion
- Strategis
- Use case
- Portofolio produk
Porter's Five Forces
Porter's Five Forces menilai daya tarik dan tingkat persaingan sebuah industri lewat lima kekuatan: pendatang baru, pemasok, pembeli, produk substitusi, dan rivalry antar pemain. Makin kuat kelima gaya ini menekan, makin tipis margin dan makin sulit menang, sehingga kamu tahu di mana harus membangun benteng.
- Conversion
- Strategis
- Use case
- Analisis industri
Research & Analysis
5 itemSWOT
SWOT memetakan empat hal sebelum menyusun strategi: Strengths dan Weaknesses (faktor internal yang bisa kamu kendalikan) serta Opportunities dan Threats (faktor eksternal di luar kendalimu). Tujuannya menyandingkan kekuatan internal dengan peluang pasar, sekaligus menutup kelemahan sebelum diserang ancaman.
- Conversion
- Analitis
- Use case
- Analisis posisi bisnis
PESTEL
PESTEL adalah kerangka untuk memindai enam faktor makro di luar kendali bisnis (Political, Economic, Social, Technological, Environmental, Legal) yang bisa mengubah permintaan, biaya, dan aturan main. Tujuannya menangkap peluang dan risiko dari lingkungan luar sebelum menyusun strategi, bukan setelah terlanjur rugi.
- Conversion
- Analitis
- Use case
- Analisis makro
Customer Persona
Customer persona adalah profil semi-fiksi pelanggan idealmu, disarikan dari data pelanggan nyata jadi satu sosok konkret lengkap dengan tujuan, pain point, keberatan, dan cara ia memutuskan beli. Fungsinya menyamakan pemahaman tim dan mengarahkan pesan supaya kamu menulis untuk satu orang jelas, bukan buat 'pasar' yang abstrak.
- Conversion
- Analitis
- Use case
- Arahkan pesan
Empathy Map
Empathy Map memetakan satu pelanggan ke dalam empat kuadran: Says (yang diucapkan terbuka), Thinks (yang dipikirkan diam-diam), Does (yang benar-benar dilakukan), dan Feels (yang dirasakan). Tujuannya menggeser pesanmu dari asumsi tim internal ke sudut pandang pelanggan yang sebenarnya.
- Conversion
- Analitis
- Use case
- Pahami pelanggan
Kano Model
Kano Model memetakan hubungan antara fitur produk dan kepuasan pelanggan, lalu mengelompokkan tiap fitur ke jenis utama: basic (wajib ada, kalau tidak ada orang kecewa), performance (makin banyak makin puas), dan delight (tak diminta tapi bikin terkesan). Tujuannya menentukan fitur mana yang harus dibereskan lebih dulu dan mana yang layak dijual sebagai pembeda.
- Conversion
- Analitis
- Use case
- Prioritas fitur
Funnel & Journey
7 itemAIDAS
AIDAS memetakan perjalanan pembeli lewat lima tahap: Attention, Interest, Desire, Action, Satisfaction. Bedanya dengan AIDA, kerangka ini tidak berhenti saat orang membeli, tapi meneruskan ke kepuasan pascabeli supaya pelanggan balik lagi dan merekomendasikan.
- Conversion
- Funnel
- Use case
- Copy + retensi
AARRR
AARRR memecah bisnis (terutama produk digital) jadi lima tahap yang bisa diukur, yaitu Acquisition (orang menemukanmu), Activation (pengalaman pertama yang berkesan), Retention (mereka kembali), Referral (mereka merekomendasikan), dan Revenue (mereka membayar). Idenya sederhana: berhenti menatap metrik kosong seperti jumlah view, lalu lacak angka yang benar-benar menunjukkan di mana funnel-mu bocor dan uang hilang.
- Conversion
- Funnel
- Use case
- Metrik startup
TOFU-MOFU-BOFU
TOFU-MOFU-BOFU membagi perjalanan calon pembeli jadi tiga tahap kesiapan: atas funnel untuk yang baru sadar punya masalah, tengah untuk yang sedang membandingkan solusi, dan bawah untuk yang tinggal memutuskan beli. Tiap tahap butuh konten, tawaran, dan CTA berbeda karena orangnya berada di titik keputusan yang berbeda.
- Conversion
- Funnel
- Use case
- Struktur funnel konten
See-Think-Do-Care
STDC mengelompokkan seluruh calon dan pelanggan berdasar niat komersial ke empat klaster (See, Think, Do, Care), lalu mencocokkan konten, media, dan ukuran keberhasilan dengan tiap klaster. Intinya: jangan menyodorkan 'beli sekarang' ke orang yang belum kepikiran butuh, dan jangan lupakan orang yang sudah membeli.
- Conversion
- Funnel
- Use case
- Funnel berbasis intent
Customer Journey Map
Customer Journey Map adalah gambar visual yang merangkai seluruh pengalaman pelanggan lintas tahap dan channel, dari saat mereka pertama sadar punya kebutuhan sampai membeli ulang dan merekomendasikan. Tujuannya membuat tim melihat bisnis dari sisi pelanggan, bukan dari sisi struktur internal, sehingga gesekan yang menghambat konversi jadi kelihatan dan bisa diperbaiki.
- Conversion
- Funnel
- Use case
- Petakan touchpoint
Flywheel
Flywheel mengganti funnel yang berakhir di penjualan dengan roda yang berputar terus: pelanggan diletakkan di pusat, dan setiap pelanggan yang puas ikut mendorong roda lewat rekomendasi, ulasan, dan repeat order. Pertumbuhan datang dari menambah gaya dorong (marketing, sales, service yang baik) dan mengurangi gesekan (proses yang bikin orang batal atau kecewa).
- Conversion
- Funnel
- Use case
- Pertumbuhan berputar
Hook Model
Hook Model adalah siklus empat tahap (Trigger, Action, Variable Reward, Investment) yang, kalau diputar berulang, mengubah produk jadi kebiasaan sehingga orang datang sendiri tanpa harus terus dibayar lewat iklan. Intinya, tiap putaran, investasi pengguna menaikkan nilai produk sekaligus menyiapkan pemicu berikutnya.
- Conversion
- Funnel
- Use case
- Bangun kebiasaan
Growth & Digital
7 itemGrowth Hacking Funnel
Growth Hacking Funnel memadukan peta funnel AARRR dengan eksperimen bertempo tinggi: kamu cari tahap yang paling bocor, uji banyak ide murah untuk membenahinya, simpan yang menang dan buang yang kalah, lalu ulangi. Fokusnya bukan satu ide besar, melainkan kecepatan belajar yang membuat pertumbuhan menumpuk dari eksperimen kecil yang terus berjalan.
- Conversion
- Growth
- Use case
- Eksperimen cepat
RACE
RACE membagi kegiatan digital marketing jadi empat tahap yang mengikuti perjalanan pelanggan: Reach (menjangkau orang baru), Act (mendorong interaksi awal), Convert (mengubah jadi penjualan), dan Engage (menjaga pelanggan agar beli lagi dan merekomendasikan). Tiap tahap punya KPI sendiri, jadi kamu tahu persis di titik mana funnel bocor, bukan cuma melihat total penjualan.
- Conversion
- Growth
- Use case
- Perencanaan digital
Growth Loops
Growth Loops mengganti cara pandang funnel (orang masuk di atas, jatuh jadi pelanggan di bawah, lalu selesai) dengan putaran tertutup: output dari satu siklus, entah konten, pengguna baru, uang, atau data, langsung diinvestasikan ulang jadi input siklus berikutnya. Karena tiap putaran memberi makan putaran selanjutnya, pertumbuhan jadi menumpuk (compounding), bukan sekali pakai seperti kampanye iklan biasa.
- Conversion
- Growth
- Use case
- Pertumbuhan kompaun
North Star Metric
North Star Metric adalah satu metrik utama yang paling mencerminkan nilai inti produk bagi pelanggan, dipakai sebagai angka penyelaras lintas tim sekaligus leading indicator pertumbuhan yang berkelanjutan. Alih-alih mengejar banyak vanity metric, semua fungsi fokus menggerakkan satu angka yang benar-benar berarti.
- Conversion
- Growth
- Use case
- Fokus metrik utama
ICE Scoring
ICE memberi skor tiap ide eksperimen pada tiga faktor: Impact (seberapa besar dampaknya kalau berhasil), Confidence (seberapa yakin ide itu akan berhasil berdasar bukti), dan Ease (seberapa gampang dan cepat dieksekusi). Skor gabungan ketiganya menentukan ide mana yang dikerjakan lebih dulu, supaya waktu dan budget tidak habis di ide yang kelihatan seru tapi berdampak kecil.
- Conversion
- Growth
- Use case
- Prioritas ide
RICE Scoring
RICE menilai tiap ide atau eksperimen lewat empat faktor (Reach, Impact, Confidence, Effort) lalu menghitung skor dengan rumus (Reach x Impact x Confidence) dibagi Effort. Ide dengan skor tertinggi dikerjakan lebih dulu, sehingga urutan prioritas tidak lagi ditentukan siapa yang paling ngotot di rapat.
- Conversion
- Growth
- Use case
- Prioritas roadmap
Digital Marketing Funnel
Digital Marketing Funnel membagi perjalanan calon pembeli menjadi lima tahap, dari mulai sadar sampai jadi pelanggan yang merekomendasikan, lalu mencocokkan tiap tahap dengan kanal digital, konten, dan metrik yang tepat. Kekuatannya bukan sekadar 'menjual', tapi mengukur berapa banyak orang yang lolos dari satu tahap ke tahap berikutnya sehingga kamu tahu persis di mana calon pembeli bocor.
- Conversion
- Growth
- Use case
- Funnel kanal digital
Brand Strategy
3 itemBrand Pyramid
Brand Pyramid menyusun brand dalam lima lapis dari dasar ke puncak: atribut/fitur, manfaat fungsional, manfaat emosional, kepribadian & nilai, lalu esensi. Tujuannya memaksa brand memilih satu esensi inti yang menjadi acuan semua keputusan pesan, kreatif, dan produk.
- Conversion
- Brand
- Use case
- Esensi brand
Brand Archetypes
12 Brand Archetypes memetakan kepribadian brand ke dalam 12 karakter universal (mis. Pahlawan, Pemberontak, Bijak, Pecinta) yang berakar pada arketipe Carl Jung. Kamu pilih satu arketipe dominan sebagai 'kepribadian' brand, lalu pakai konsisten di visual, bahasa, dan pengalaman agar audiens terhubung secara emosional dan mudah membedakanmu dari kompetitor.
- Conversion
- Brand
- Use case
- Kepribadian brand
Keller CBBE
Keller CBBE memetakan pembangunan merek sebagai empat tingkat berurutan: Identitas (siapa kamu), Makna (apa kamu), Respons (apa penilaian orang soal kamu), dan Resonansi (seberapa erat hubungan kita). Puncaknya adalah resonansi, yaitu saat pelanggan bukan cuma membeli tapi loyal, terikat, dan aktif merekomendasikan.
- Conversion
- Brand
- Use case
- Bangun brand equity
Retention & Loyalty
4 itemRFM Analysis
RFM mengurutkan pelanggan berdasar tiga sinyal transaksi, yaitu seberapa baru mereka membeli (Recency), seberapa sering (Frequency), dan seberapa besar total belanjanya (Monetary), lalu mengelompokkannya jadi segmen yang bisa ditindaklanjuti. Intinya sederhana: berhenti memperlakukan semua pelanggan sama, dan arahkan usaha retensi ke orang yang paling mungkin memberi hasil.
- Conversion
- Retensi
- Use case
- Segmentasi pelanggan
CLV / LTV
Customer Lifetime Value (CLV/LTV) adalah perkiraan total profit yang dihasilkan satu pelanggan sepanjang ia berhubungan dengan bisnismu, bukan cuma dari satu transaksi. Angka ini menjadi patokan berapa maksimal yang wajar kamu keluarkan untuk mendapatkan dan mempertahankan pelanggan.
- Conversion
- Retensi
- Use case
- Nilai pelanggan
NPS
NPS mengukur loyalitas lewat satu pertanyaan pada skala 0-10: seberapa besar kemungkinan pelanggan merekomendasikanmu. Jawabannya dikelompokkan jadi Promoter, Passive, dan Detractor, lalu diringkas jadi satu skor -100 sampai +100 yang gampang dipantau dan dibandingkan antar cabang, produk, atau periode.
- Conversion
- Retensi
- Use case
- Ukur loyalitas
AARRR Retention Loop
AARRR Retention Loop menyusun bisnis ke dalam lima metrik (Acquisition, Activation, Retention, Referral, Revenue) tapi menutup ujungnya kembali ke awal: pelanggan yang bertahan dan merekomendasikan menjadi sumber akuisisi berikutnya, bukan sekadar hasil akhir corong. Fokusnya menggeser energi dari terus membeli pelanggan baru ke membuat pelanggan lama berputar lagi dan membawa orang baru.
- Conversion
- Retensi
- Use case
- Retensi & referral
Planning & Execution
3 itemSMART Goals
SMART adalah lima syarat yang membuat sebuah tujuan layak dieksekusi: Specific (jelas), Measurable (terukur), Achievable (masuk akal dicapai), Relevant (nyambung ke sasaran bisnis), dan Time-bound (punya tenggat). Intinya mengubah keinginan samar seperti 'naikkan penjualan' menjadi target yang bisa dicek benar atau salah pada tanggal tertentu.
- Conversion
- Eksekusi
- Use case
- Tetapkan tujuan
OKR
OKR memasangkan satu Objective (tujuan kualitatif yang menggugah dan mudah diingat) dengan 3-5 Key Results (angka terukur yang membuktikan tujuan itu tercapai), lalu ditinjau berkala tiap kuartal. Rumus Doerr menyederhanakannya: 'Saya akan [Objective] yang diukur lewat [Key Results]', sehingga target tim tidak berhenti di niat tapi punya garis finis yang jelas.
- Conversion
- Eksekusi
- Use case
- Selaraskan target
SOSTAC
SOSTAC adalah kerangka perencanaan pemasaran enam tahap: Situation (di mana kita sekarang), Objectives (mau ke mana), Strategy (bagaimana cara ke sana secara garis besar), Tactics (rincian taktik dan channel), Action (siapa mengerjakan apa dan kapan), dan Control (bagaimana mengukur serta mengoreksi). Urutannya sengaja dibuat berurutan supaya keputusan taktik dan anggaran selalu berpijak pada situasi dan tujuan yang sudah jelas, bukan asal jalan.
- Conversion
- Eksekusi
- Use case
- Perencanaan menyeluruh
Storytelling Frameworks
5 item3-Act Story
Struktur naratif tiga babak: Setup untuk mengenalkan tokoh dan status quo, Confrontation untuk menaikkan konflik dan taruhan, lalu Resolution untuk klimaks dan transformasi. Polanya membuat pesan brand lebih diingat karena mengikuti cara otak manusia menyimpan dan menceritakan ulang sebuah kisah.
- Conversion
- 6-10%
- Use case
- Content marketing, video ads, brand storytelling
4P Storytelling
Framework storytelling yang menyusun narasi brand dalam empat babak: People (perkenalkan karakter atau pelanggan yang relatable), Purpose (motivasi dan keinginannya), Problem (hambatan yang dihadapi), lalu Payoff (transformasi setelah memakai solusi). Tujuannya membuat pesan terasa personal dan mudah diingat, bukan sekadar mengumbar fitur.
- Conversion
- 7-11%
- Use case
- Brand campaigns, product launches, promotional content
Hero's Journey
Hero's Journey memetakan kisah perubahan seorang tokoh dari dunia biasa, menerima panggilan, dibimbing mentor, melewati ujian, sampai pulang dengan hasil yang mengubah dirinya. Dalam marketing, pelanggan yang ditempatkan sebagai pahlawan dan brand berperan sebagai mentor yang membekali mereka, bukan mengambil alih panggung.
- Conversion
- 8-13%
- Use case
- Brand stories, customer testimonials, marketing campaigns
QUEST
QUEST menyusun sales copy dalam lima tahap berurutan: Qualify (saring pembaca yang tepat), Understand (tunjukkan kamu paham masalahnya), Educate (jelaskan solusinya), Stimulate (bangkitkan keinginan lewat nilai dan bukti), lalu Transition (ubah pembaca jadi pembeli lewat CTA). Bedanya dari AIDA, QUEST justru mulai dengan menyaring audiens dulu, bukan langsung merebut perhatian semua orang.
- Conversion
- 8-12%
- Use case
- Complex industries (legal, finance, IT compliance)
Storyselling
Storyselling adalah teknik menjual dengan membungkus penawaran dalam cerita nyata: perkenalkan tokoh dan masalahnya (Story), bangun koneksi lewat emosi dan taruhan yang relatable (Emotion), lalu tutup dengan resolusi berupa hasil konkret dan ajakan bertindak (Resolution). Alih-alih mengurai fitur, ia memakai kisah pelanggan agar audiens berpikir 'ini cerita saya' sehingga keputusan beli terasa muncul dari dalam diri mereka sendiri.
- Conversion
- 8-13%
- Use case
- Sales presentations, marketing videos, brand narratives
Psychological Principles
9 itemAnchoring Effect
Anchoring effect adalah kecenderungan otak menjadikan angka atau informasi pertama yang dilihat sebagai titik acuan yang membentuk semua penilaian berikutnya. Dalam marketing, harga atau nilai pembanding yang muncul lebih dulu membuat penawaran utamamu terasa lebih murah dan lebih masuk akal.
- Conversion
- 6-10%
- Use case
- Pricing strategies, product bundles, comparison pages
Consistency Principle
Orang cenderung bertindak konsisten dengan komitmen yang sudah mereka buat, terutama komitmen yang aktif, publik, dan sukarela. Dalam marketing, ambil dulu komitmen kecil (micro-yes) supaya calon pelanggan terdorong konsisten sampai keputusan besar seperti pembelian.
- Conversion
- 5-9%
- Use case
- Follow-up sequences, loyalty programs, habit formation
Contrast Principle
Dua hal yang disajikan berurutan tampak lebih berbeda dari kenyataannya. Dengan menampilkan opsi yang lebih mahal atau lebih besar lebih dulu, opsi utama yang kamu jual terasa lebih murah dan lebih masuk akal.
- Conversion
- 6-10%
- Use case
- Pricing tiers, product comparisons, upselling techniques
Endowment Effect
Endowment effect adalah kecenderungan orang menilai sesuatu lebih tinggi begitu merasa memilikinya, sehingga enggan melepaskannya. Dalam marketing, ini artinya bikin calon pembeli merasa 'sudah punya' dulu, entah lewat trial, personalisasi, atau kepemilikan simbolis, supaya melepaskannya terasa seperti kehilangan.
- Conversion
- 8-12%
- Use case
- Free trials, product demos, ownership marketing
Framing Effect
Cara sebuah informasi disajikan mengubah keputusan orang, walau faktanya identik. Menyebut 'hemat Rp 2 juta' berbeda efeknya dari 'jangan bayar lebih Rp 2 juta', dan 'Rp 9.900/hari' terasa jauh lebih ringan dari 'Rp 297.000/bulan' meski jumlahnya sama.
- Conversion
- 6-10%
- Use case
- Messaging, offer presentation, risk communication
Loss Aversion Hook
Loss Aversion Hook adalah teknik membuka pesan dengan menonjolkan apa yang bisa hilang atau terlewat, bukan apa yang bisa didapat, karena secara psikologis rasa kehilangan terasa sekitar dua kali lebih kuat daripada keuntungan setara. Tujuannya membuat audiens berhenti dan bertindak untuk menghindari kerugian, bukan sekadar mengejar manfaat.
- Conversion
- 7-12%
- Use case
- Limited-time offers, scarcity marketing, urgency campaigns
Pain vs Pleasure
Pain vs Pleasure memetakan dua motor keputusan manusia: menjauh dari rasa sakit (masalah, kerugian, rasa takut) dan mendekat ke kenikmatan (aspirasi, status, kelegaan). Tugas pemasar adalah memilih tuas mana yang ditarik lebih dulu, karena untuk aksi cepat rasa sakit dan takut rugi biasanya lebih kuat, sementara kenikmatan membangun keinginan jangka panjang.
- Conversion
- 6-10%
- Use case
- Copywriting, emotional marketing, benefit-focused messaging
Peak-End Rule
Peak-end rule menjelaskan bahwa orang menilai sebuah pengalaman hampir seluruhnya dari momen puncaknya (titik emosi paling intens) dan dari bagaimana pengalaman itu berakhir, bukan dari rata-rata tiap detiknya. Dalam marketing, kesan terhadap brand ditentukan oleh momen puncak dan sentuhan terakhir di perjalanan pelanggan, bukan durasi total interaksi.
- Conversion
- 7-11%
- Use case
- Customer experience, event marketing, product demos
Reciprocity Loop
Ketika seseorang menerima sesuatu yang bernilai lebih dulu, ia merasa terdorong membalas. Reciprocity Loop memakai ini secara berulang: beri value nyata dulu (Give), dapatkan trust dan engagement (Receive), lalu naikkan value dan ask secara bertahap (Loop) sampai jadi pembeli.
- Conversion
- 7-11%
- Use case
- Content marketing, partnerships, customer loyalty
Sales Techniques
12 itemAIDA
AIDA memetakan perjalanan calon pembeli lewat empat tahap berurutan: Attention, Interest, Desire, Action. Tujuannya membuat pesan iklan menuntun orang dari sekadar sadar sampai akhirnya bertindak, entah beli, daftar, atau hubungi.
- Conversion
- 3-6%
- Use case
- Advertising, video marketing, sales presentations
BAB
BAB menata pesan dalam tiga langkah: gambarkan Before (kondisi bermasalah pembaca sekarang), lukiskan After (hidup setelah masalah itu hilang), lalu tunjukkan Bridge (produk atau jasa Anda sebagai jembatan dari Before ke After).
- Conversion
- 7-12%
- Use case
- Testimonials, case studies, transformation stories
Ben Franklin Close
Ben Franklin Close memandu prospek membuat daftar dua kolom, alasan untuk membeli (pro) versus alasan menunda (kontra), lalu membantu menuntaskan sisi kontra sampai keputusan terasa rasional dan diambil sendiri, bukan dipaksa.
- Conversion
- 8-12%
- Use case
- Sales conversations, consultation calls, high-ticket sales
Big 3 Objections Handler
Framework sales yang mengantisipasi tiga keberatan terbesar calon pembeli (harga, waktu, hasil) lalu menjawabnya lebih dulu sebelum diucapkan, sehingga gesekan menjelang closing berkurang. Paling efektif untuk penawaran high-ticket seperti konsultasi dan jasa premium.
- Conversion
- 9-14%
- Use case
- Sales training, objection handling scripts, consultation processes
FAB
FAB mengubah cara bicara produk dari sekadar menyebut fitur (Features), menjadi menjelaskan keunggulannya (Advantages), lalu manfaat konkret yang dirasakan pelanggan (Benefits). Intinya orang tidak beli fitur, mereka beli hasil yang fitur itu berikan.
- Conversion
- 5-8%
- Use case
- Product descriptions, sales presentations, marketing copy
Feel-Felt-Found
Feel-Felt-Found adalah pola menangani keberatan lewat empati tiga langkah: akui dulu perasaan calon pembeli (Feel), tunjukkan orang lain pernah merasa sama (Felt), lalu ceritakan apa yang akhirnya mereka temukan setelah tetap mencoba (Found). Intinya menurunkan resistensi tanpa berdebat, lalu me-reframe keberatan jadi alasan untuk maju.
- Conversion
- 6-9%
- Use case
- Customer service, sales objections, support conversations
Micro-Yes Sequence
Rangkaian pertanyaan atau ajakan kecil yang gampang dijawab 'ya' untuk membangun momentum kesepakatan, sehingga saat tiba di ajakan besar (beli, booking, teken kontrak) prospek sudah terbiasa mengiyakan.
- Conversion
- 8-13%
- Use case
- Sales funnels, consultation processes, negotiation
Objection-Reframe-Resolve
Framework objection-handling tiga langkah: Objection (dengarkan dan akui keberatan tanpa langsung membantah), Reframe (geser cara pandang keberatan itu ke sudut yang menguntungkan), lalu Resolve (tutup dengan solusi konkret plus bukti dan risk-reversal). Paling efektif untuk penawaran premium atau kompleks yang gesekan closing-nya tinggi.
- Conversion
- 9-14%
- Use case
- Sales training, objection handling, closing techniques
PASTOR
PASTOR adalah kerangka sales copy panjang yang menuntun calon pembeli lewat enam tahap berurutan: Problem, Amplify, Story, Transform, Offer, Response. Dibuat untuk penawaran high-ticket, di mana keputusan butuh dibangun secara emosional dari rasa sakit menuju solusi, bukan sekadar diskon cepat.
- Conversion
- 10-15%
- Use case
- High-ticket coaching, premium SaaS, enterprise services
PAS
PAS menyusun pesan dalam tiga langkah: Problem (sebut masalah yang dirasakan calon pembeli), Agitate (korek dan perbesar rasa sakit masalah itu sampai terasa mendesak), lalu Solution (tawarkan produk atau jasa Anda sebagai jalan keluar). Kekuatannya bertumpu pada kenyataan bahwa orang lebih cepat bertindak untuk menghindari sakit ketimbang mengejar untung.
- Conversion
- 5-8%
- Use case
- Landing pages, sales pages, email marketing
SLAP
SLAP menyusun iklan atau landing page respons langsung dalam empat langkah: Stop (hentikan scroll), Look (buat mereka membaca value dan benefit), Act (satu ajakan bertindak yang jelas), lalu Purchase (hilangkan friksi dan keraguan lewat garansi atau risk reversal sampai transaksi terjadi). Paling pas untuk produk murah atau impulsif yang keputusannya cepat.
- Conversion
- 9-14%
- Use case
- Social media ads, video marketing, direct response
STAR
STAR menyusun sebuah kisah dalam empat bagian: Situation (kondisi awal), Task (target yang harus dicapai), Action (yang benar-benar dikerjakan), dan Result (hasil terukur). Aslinya teknik wawancara perilaku, di marketing ia dipakai untuk mengubah testimoni dan studi kasus jadi bukti konkret berangka, bukan pujian umum.
- Conversion
- 6-10%
- Use case
- B2B services, consulting, professional services
Positioning & Branding
5 itemAnti-Positioning
Anti-positioning menaruh brand di benak konsumen dengan mendefinisikan diri sebagai lawan atau kebalikan pemimpin pasar. Kamu tidak melawan fitur produk pesaing, tapi menumpang kategori yang sudah ada di kepala orang lalu membaliknya, seperti 7-Up jadi 'Uncola' dan Avis mengaku 'nomor dua yang lebih berusaha'.
- Conversion
- 7-12%
- Use case
- Brand differentiation, niche marketing, disruptive campaigns
Golden Circle
Golden Circle menyusun komunikasi dari dalam ke luar: Why (kepercayaan/tujuan), How (cara unik mewujudkannya), lalu What (produk/layanan konkret). Intinya, orang tidak membeli apa yang kamu buat, tapi alasan kenapa kamu membuatnya, sehingga pesan sebaiknya dibuka dari Why bukan dari daftar fitur.
- Conversion
- 6-10%
- Use case
- Brand messaging, leadership communication, company vision
One Big Thing
One Big Thing memaksa setiap materi marketing berpusat pada satu value proposition dominan, bukan menumpuk banyak fitur sampai pesannya kabur. Kamu memilih satu ide besar yang paling penting bagi calon pembeli, lalu membuat headline, kreatif, dan penawaran semuanya menopang ide itu.
- Conversion
- 5-8%
- Use case
- Brand messaging, product positioning, marketing campaigns
Rule of One
Rule of One memaksa satu aset komunikasi hanya membidik satu pembaca, mengangkat satu pesan/ide utama, satu tawaran, dan satu CTA. Fokus tunggal ini mengurangi kebingungan dan umumnya menaikkan conversion dibanding pesan yang menumpuk banyak benefit sekaligus.
- Conversion
- 5-8%
- Use case
- Copywriting, ad creatives, presentation slides
Tribe Positioning
Tribe Positioning memenangkan benak lewat rasa memiliki, bukan sekadar fitur. Brand memposisikan diri sebagai pemimpin sebuah 'tribe', yaitu kelompok dengan identitas dan nilai yang sama, lalu menaikkan loyalitas dengan tiga lapis: Identity ('ini untuk orang seperti saya'), Belonging (rasa jadi bagian komunitas), dan Exclusivity (akses terbatas yang bikin anggota merasa terpilih).
- Conversion
- 7-12%
- Use case
- Community building, niche marketing, brand loyalty
Persuasion & Influence
13 itemBecause Justification
Orang jauh lebih mudah menuruti permintaan bila diberi alasan yang diawali kata 'karena', bahkan saat alasannya tipis. Di studi asli, menambahkan 'karena saya harus fotokopi' menaikkan kepatuhan menyerobot antrean dari 60% ke 93%.
- Conversion
- 4-7%
- Use case
- Email marketing, sales scripts, request forms
Commitment-Consistency Funnel
Funnel yang membangun konversi bertahap: minta komitmen kecil dulu, lalu manfaatkan dorongan psikologis untuk tetap konsisten dengan komitmen itu agar prospek mau mengambil langkah yang makin besar sampai membeli.
- Conversion
- 7-11%
- Use case
- Email sequences, lead nurturing, subscription models
Curiosity Gap
Curiosity gap memancing rasa ingin tahu dengan menunjukkan adanya jarak antara yang sudah diketahui orang dan yang ingin mereka ketahui: beri cukup info untuk menarik minat, tahan satu bagian yang bikin penasaran, lalu tuntaskan dengan value nyata. Kuncinya jujur, gap wajib benar-benar ditutup, bukan clickbait yang di ujungnya mengecewakan.
- Conversion
- 5-8%
- Use case
- Headlines, email subject lines, video thumbnails
Empathy-Authority-Solution
Framework pesan yang memenangkan kepercayaan sebelum menjual: tunjukkan empati bahwa kamu paham masalah pelanggan, buktikan otoritas bahwa kamu memang bisa membantu, lalu tawarkan solusimu sebagai jalan keluar yang jelas. Merek berperan sebagai pemandu, bukan pahlawan.
- Conversion
- 7-11%
- Use case
- Content marketing, webinars, consultation sessions
Future Pacing
Future Pacing membimbing calon pembeli membayangkan dirinya sudah memakai solusimu dan menikmati hasilnya secara detail dan inderawi. Karena otak sulit membedakan pengalaman nyata dari yang divisualisasikan dengan jelas, keputusan membeli terasa seperti sekadar melanjutkan masa depan yang sudah ia lihat sendiri.
- Conversion
- 7-11%
- Use case
- Sales scripts, visualization exercises, testimonials
Know-Like-Trust
Know-Like-Trust menyatakan orang cenderung membeli dari dan mereferensikan bisnis ke pihak yang mereka kenal, sukai, dan percayai. Framework ini menata urutan membangun hubungan: bikin orang kenal dulu, lalu suka, baru cukup percaya untuk beli.
- Conversion
- 5-9%
- Use case
- Content strategy, social media, personal branding
Pattern Interrupt
Pattern interrupt mematahkan pola otomatis yang sedang dijalankan audiens (scroll autopilot, banner blindness, ekspektasi format iklan) dengan sesuatu yang tak terduga, sehingga perhatian berhenti dan pikiran terbuka menerima pesan. Di iklan, taruhannya ada di frame atau baris pertama: kalau tidak memutus pola, sisanya tidak dibaca.
- Conversion
- 6-9%
- Use case
- Ad creatives, email opens, attention-grabbing content
Power of Free
Power of Free memanfaatkan temuan bahwa kata 'gratis' memicu tindakan jauh lebih agresif daripada sekadar harga murah, bukan proporsional dengan penurunan harganya. Dalam marketing kamu memberi sesuatu yang benar-benar bernilai secara cuma-cuma (lead magnet, audit, konsultasi) untuk membangun trust dan rasa timbal balik, lalu mengonversi database itu jadi penjualan.
- Conversion
- 8-12%
- Use case
- Lead magnets, freemium models, promotional offers
Pre-Suasion
Pre-Suasion adalah seni mengarahkan perhatian audiens sebelum pesan utama disampaikan, sehingga momen sebelum pitch (framing, konteks, dan pertanyaan pembuka) menentukan seberapa reseptif mereka. Intinya bukan mengubah isi tawaran, tapi menyiapkan pikiran agar tawaran yang sama terasa lebih relevan dan meyakinkan.
- Conversion
- 9-14%
- Use case
- Email sequences, landing pages, sales presentations
Risk Reversal
Risk Reversal memindahkan risiko transaksi dari pembeli ke penjual lewat garansi, trial, atau refund, sehingga alasan 'takut rugi' hilang dan calon pembeli lebih berani ambil keputusan. Paling ampuh di titik keputusan seperti checkout, CTA utama, dan penawaran premium atau high-ticket.
- Conversion
- 8-13%
- Use case
- High-ticket sales, subscription models, service offerings
Scarcity-Urgency Duo
Scarcity + Urgency Duo memasangkan kelangkaan (jumlah terbatas: sisa stok, kuota, edisi) dengan urgensi (waktu terbatas: deadline, countdown) agar audiens bertindak sekarang, bukan nanti. Kelangkaan memberi alasan 'kenapa berharga', urgensi memberi alasan 'kenapa sekarang', dan keduanya hanya bekerja jika benar-benar nyata.
- Conversion
- 8-12%
- Use case
- Limited-time offers, flash sales, event promotions
Social Proof + Scarcity
Framework ini menumpuk dua pemicu keputusan: social proof (orang mengikuti apa yang dilakukan dan dipercaya banyak orang lain, terutama saat ragu) dan scarcity (nilai sesuatu naik saat jumlah atau waktunya terasa terbatas). Digabung, bukti sosial memberi rasa aman untuk membeli, sementara kelangkaan memberi alasan untuk membeli sekarang, bukan nanti.
- Conversion
- 7-11%
- Use case
- Testimonials, reviews, limited availability products
So-What Test
So-What Test memaksa setiap klaim, fitur, atau spesifikasi dijawab dengan pertanyaan 'lalu apa untungnya buat saya?' berulang kali sampai berhenti di manfaat konkret yang relevan buat audiens. Ini alat uji dan revisi untuk membedah copy yang mentok di fitur, bukan template menulis dari nol.
- Conversion
- 4-7%
- Use case
- Copywriting, content review, messaging optimization
Content & Copywriting
5 item5-Second Rule
Audiens memutuskan lanjut atau pergi dalam sekitar 5 detik pertama, jadi visual, headline, dan janji value harus langsung terbaca dan relevan sebelum mereka scroll. Awalnya metode uji cepat first-impression di UX, sekarang jadi standar untuk merancang hook iklan dan hero halaman.
- Conversion
- 5-8%
- Use case
- Ad creatives, landing page headlines, social media hooks
4C's of Copywriting
4C adalah standar mutu untuk menilai dan menyunting copy: setiap kalimat harus Clear (mudah dipahami sekali baca), Concise (tanpa kata sia-sia), Compelling (relevan dan menggerakkan pembaca untuk lanjut), dan Credible (klaimnya ditopang bukti). Bukan formula untuk menyusun pesan dari nol, melainkan saringan yang kamu lewatkan pada draf agar tidak membuang perhatian pembaca dan uang iklan.
- Conversion
- 6-10%
- Use case
- Kualitas copy
StoryBrand SB7
StoryBrand SB7 menyusun pesan pemasaran mengikuti alur tujuh bagian sebuah cerita: seorang karakter (pelanggan) punya masalah, bertemu pemandu (brand-mu) yang memberi rencana dan mengajak bertindak, sehingga ia terhindar dari kegagalan dan berakhir sukses. Intinya, berhenti menjadikan brand sebagai pahlawan cerita; tempatkan pelanggan sebagai hero dan brand-mu sebagai pemandu yang membantunya menang.
- Conversion
- 8-13%
- Use case
- Narasi brand
Content Marketing Matrix
Content Marketing Matrix menata jenis konten pada dua sumbu: dari emosional ke rasional dan dari membangun awareness ke mendorong pembelian. Hasilnya empat kuadran, yaitu Hibur, Inspirasi, Edukasi, dan Yakinkan, yang memastikan konten Anda menyentuh audiens di tiap tahap dengan gaya yang pas, bukan hanya menumpuk di satu jenis.
- Conversion
- 6-10%
- Use case
- Perencanaan konten
Hero-Hub-Hygiene
Hero-Hub-Hygiene membagi konten (awalnya video YouTube) ke tiga peran: Hero adalah momen besar sesekali untuk menjangkau audiens massal, Hub adalah seri reguler yang membuat penggemar kembali dan subscribe, dan Hygiene/Help adalah konten evergreen yang menjawab apa yang orang aktif cari sepanjang tahun. Ketiganya bekerja sebagai satu portofolio, bukan pilihan salah satu.
- Conversion
- 6-10%
- Use case
- Strategi konten video
Customer Journey
2 itemJobs To Be Done
JTBD memandang pelanggan tidak membeli produk, melainkan 'menyewa' produk untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan (job) dalam hidup mereka. Fokusnya bergeser dari fitur dan demografi ke progres yang ingin dicapai pelanggan pada situasi tertentu, lengkap dengan dimensi fungsional, emosional, dan sosialnya.
- Conversion
- 7-11%
- Use case
- Product development, market research, innovation strategy
Value Ladder
Value Ladder adalah rangkaian penawaran yang menaik nilai dan harganya, dari umpan gratis atau murah (lead magnet, lalu tripwire), naik ke core offer, sampai upsell high-ticket dan continuity. Tujuannya menaikkan customer lifetime value dengan 'menaikkan' pelanggan tangga demi tangga, bukan mengandalkan satu transaksi sekali jalan.
- Conversion
- 10-15%
- Use case
- Product funnels, service packages, subscription tiers
Pricing & Value
3 item3C
Framework 3C menilai strategi dari tiga sudut yang saling terkait: Company (kekuatan dan positioning kita), Customer (kebutuhan serta segmen yang disasar), dan Competitor (posisi pesaing). Strategi yang menang lahir di titik pertemuan kekuatan Company dengan kebutuhan Customer yang belum digarap tuntas oleh Competitor.
- Conversion
- 5-9%
- Use case
- Market analysis, competitive strategy, positioning statements
4C
4C mengganti sudut pandang 4P dari 'apa yang bisa kita jual' menjadi sudut pandang pelanggan: Product jadi Customer (kebutuhan riil), Price jadi Cost (total biaya yang ditanggung pembeli), Place jadi Convenience (kemudahan membeli), dan Promotion jadi Communication (dialog dua arah, bukan cuma promosi searah).
- Conversion
- 4-7%
- Use case
- Customer experience design, product development, service optimization
4U
Checklist empat kriteria untuk menguji kekuatan headline, subject line, dan bullet: Useful, Urgent, Unique, dan Ultra-specific. Fungsinya menilai dan merevisi draf yang sudah ada, bukan jadi template menulis dari nol.
- Conversion
- 8-13%
- Use case
- High-converting offers, limited-time promotions, niche products
Referensi
Dipakai dengan konteks dan bukti.
Jobs To Be Done
JTBD mengingatkan bahwa pelanggan tidak membeli kategori produk, mereka mencoba menyelesaikan progress tertentu dalam situasi tertentu.
Open source ->Think with GoogleMessy Middle
Keputusan beli tidak linear. Orang bolak-balik antara eksplorasi dan evaluasi, jadi framework harus membantu discovery, trust, dan proof sekaligus.
Open source ->Influence at Work / Dr. Robert CialdiniPrinciples of Persuasion
Reciprocity, social proof, authority, liking, consistency, dan scarcity kuat jika dipakai etis dan relevan, bukan sebagai trik manipulatif.
Open source ->Meta Business Help CenterLearning Phase & Significant Edits
Dalam iklan berbayar, perubahan strategi dan creative tidak berdiri sendiri. Delivery system juga butuh sinyal stabil agar optimasi bisa terbaca.
Open source ->Nielsen Norman GroupUX Writing & Web Reading Behavior
Pembaca web men-scan halaman. Karena itu framework harus menghasilkan struktur yang cepat dipahami, bukan copy panjang yang sulit dipindai.
Open source ->Butuh dipilihkan?